Home » , » Teori Psikoterapi Humanistik

Teori Psikoterapi Humanistik

Teori Psikoterapi Humanistik
Oleh: Dewi Haniarti dan Tri Mulyoni

A. Pengantar
Psikoterapi humanistik merupakan salah satu alihan dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akal pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertangahan. Pada akhir tahun 1950-an para ahli psikologi seperti: Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakos mendirikan sebuah asosiasi propesiaonal yang berupaya mengakaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia seperti; Self (diri) aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat induvidualitas dan sejenisnya. Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai hasil atas aliran psikoanalisis dan behavioralisme, serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga” dalam aliran psikologi.
Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan dalam psikologi yang pertama. Tokoh utamanya adalah Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia ayang dikembangkan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalisis berkeyakinan bahwa prilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.
Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan behavioristik menyakini bahwa semua prilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.
Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dalam lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggungjawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
B. Konsep-Konsep Utama
Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem tehnik-tehnik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Konsep-konsep utama yang membantu landasan praktek terapi yaitu:
a. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesangupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mempu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
b. Kebebasan, tanggungjawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggungjawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa eksistensial, yang juga merupakan bagian dari kondisi manusia, adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuai dengan kemmpuannya.
c. Penciptaan makna
Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menentukan tujuan hudup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.
C. Tujuan dan Fungsi Terapi
a. Tujauan
Terapi Humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Bugental (1965) menyebut keotentikan sebagai “uraian utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”. Terdapat tiga karakteristik daari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Kilen yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapai adalah membentuknya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiannya yang hilang.
b. Fungsi
Fungsi utama terai adalah berusaha memahami klin sebagai ada dalam dunia. May (1961:81) memandang fungsi terapi diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia: “ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subjek yang memiliki dunia.”

D. Penerapan Tehnik dan Dalil Utama Psikologi Humanistik
a. Penerapan tehnik
Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki tehnik-tehnik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya. Metode-metode yang berasal dari Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendaktan eksistensial-humanistik.
b. Dalil utama dari psikologi humanistik
Dalam hal ini, James Bagental (1964) mengamukakan tentang ilmu dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:
1. keberadaan manusia keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya.
2. manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam menadakan hubungan dengan orang lain.
3. manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggungjawab atas pilihan-pilihan.
4. manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.
Reference:
Abu Syamsmuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya Remaja.
Corey, General. 2005. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Nevid, Jeffrey S, dkk. 2003. Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
Comments
1 Comments

1 comments:

informasinya menarik dan lengkap, makasih ya.

Post a Comment

Terima Kasih telah Berkunjung. Blog Berstatus DoFollow.
Para pengurus Makalah Kita Semua Tidak selalu Online untuk memantau Komentar yang Masuk, Jadi tolong berikan Komentar Anda dengan Pantas dan Layak dikonsumsi oleh Publik. NO SPAM, NO SPAM, NO SPAM dan Sejenisnya.

 
 
 

Google+ Followers

Facebook

Best Friends Yang Rendah Hati

 
Copyright © 2008 - Makalah Kita Semua , All rights reserved.