Home » » Jaga Kerukunan Umat Beragama

Jaga Kerukunan Umat Beragama


Jaga Kerukunan Umat Beragama

edisi: 30/Dec/2007 wib
BHINEKA Tunggal Ika merupakan semboyan Bumi Pertiwi yang menyatakan keanekaragaman masyarakat, sosial, budaya, agama dan lain sebagainya. Suatu konflik, baik yang bersifat vertikal ataupun horizontal akan dekat kehadirannya dalam suatu keanekaragaman. Konflik mempunyai sisi negatif yang kental dan seyogyanya harus dihindari sejauh mungkin. Dengan konflik, huru-hara, kerusuhan serta kehancuran di muka bumi ini akan semakin menjadi-jadi. Untuk mengatasi dan menangkal terjadinya konflik vertikal maupun horizontal itu dibutuhkan toleransi yang mungkin akan datang sebagai obat dan solusi.
Toleransi umat beragama menjadi salah satu ciri utama bangsa Indonesia, disamping prinsip Ketuhanan yang Esa dan gotong-royong. Begitupun yang terjadi di Bangka Belitung. Dengan simbol Serumpun Sebalai motivasi toleransi umat beragama telah terjaga sejak dulu. Gelar negeri
bebas konflik harus tetap dijaga oleh masyarakat Bangka Belitung. Kendati demikian, dengan perayaan hari besar keagamaan yang begitu dekat terutama menjelang tutup tahun, bukan tak mungkin provokator yang tak bertanggung jawab akan memanaskan situasi yang sedang tenang. Untuk itu, kesadaran masyarakat beragama akan arti penting toleransi adalah hal yang paling utama dalam menjaga eksistensi ini. Beragam pandangan dan pendapat pun muncul di tengah pluralistik
masyarakat Babel. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tak mau ketinggalan. Dengan semangat toleransi, berbagai persepsi pun muncul menanggapi persoalan ini. Suryana Ningsih mahasiswa STAIN SAS kepada Gema Kampus, Jumat (28/12) mengatakan, toleransi umat beragama di Bangka Belitung sudah berlangsung sejak lama. Hingga saat ini pun katanya belum ada konflik yang berujung huru-hara menerpa kehidupan masyarakatnya yang sangat majemuk. “Selama Orde Baru lalu, toleransi umat beragama berjalan dengan sempurna. Sebagai contoh, masjid didirikan berdampingan dengan gereja atau pura. Doa bersama umat beragama kerap digaungkan. Bahkan beberapa saat lalu di Pangkalpinang dilangsungkan kemah lintas agama yang melibatkan berbagai elemen agama. Selama 30 tahun terakhir, di provinsi ini toleransi antar umat beragama nyaris tanpa cacat. Kemudian apa yang terjadi dengan toleransi setelah era reformasi yang mengusung nilai-nilai luhur demokrasi? Konflik Ambon, Poso muncul sebagai berita utama. Teror bom muncul dimana-mana. hal itu mungkin bisa membuat kita berkaca,” papar Suryana.

Kejadian-kejadian tersebut, kata Suryana, jangan sampai terjadi di Babel. Sebab lanjutnya kerukunan umat beragama di provinsi ini sangat terjaga dengan kesadaran yang tinggi.
Waspada Provokator

Toleransi sejatinya tak hanya dimunculkan sebagai wacana semata. Namun akan lebih baik jika toleransi direalisasikan dalam kehidupan masyarakat. Untuk melaksanakan dan menjalankannya, dibutuhkan kesadaran masyarakat dan masyarakat pun harus mewaspadai dan tanggap terhadap masuknya provokator yang mungkin bisa merusak kerukunan di Babel. Untuk itu, bagi Yan Suhartanto masyarakat harus lebih tanggap dan mewaspadai ancaman tersebut. Menurut mahasiswa Pertanian UBB ini, konflik agama yang terjadi di seluruh wilayah Nusantara terjadi akibat ulah provokator. “Menjaga stabilitas provinsi adalah hal yang utama. Inilah kunci keberhasilan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Waspadai ancaman provokator dan gangguan kamtibmas lainnya. Apalagi dengan perayaan hari besar keagamaan yang hampir berdekatan, maka peran masyarakat, pemerintah, dan tokoh agama sangat vital dalam persoalan ini. Toleransi bagi saya adalah bagaimana kerukunan antar umat beragama itu terjaga, terjamin, dan umat pun harus mengerti dan memahami arti penting kerukunan itu. Mahasiswa sebagai agen perubahan pun harus mampu memberikan kontribusi dalam menjaga stabilitas umat beragama. Program KKN atau yang lainnya mungkin bisa menjadi jalan. Setidaknya, menjaga kerukunan di kampus adalah hal yang paling mudah dilakukan,” kata laki-laki berwajah oriental ini.
Saling Menghargai

Keiklasan dan kesadaran masyarakat dalam menghargai perbedaan ternyata menjadi faktor penting menuju kerukunan umat beragama. Hal ini disetujui oleh Lukman Syarif. Mahasiswa Ekonomi UBB ini menekankan bahwa sikap saling menghargai merupakan salah satu bagian penting dalam toleransi. “Artinya setiap orang harus mampu menempatkan diri dalam situasi tertentu. Misalnya, jika umat Nasrani sedang beribadah di gereja, maka umat agama lain saat melewati gereja tersebut harus menghargai dengan cara tidak membisingkan suara motor atau tidak membunyikan klakson. Bukan hanya itu, jika umat muslim merayakan Idul Adha, maka tidak ada salahnya jika umat Budha atau Hindu dan umat lainnya berkunjung dan bersilaturahmi seraya memberikan selamat kepada umat muslim yang merayakannya,” terang Lukman. (i3)
http://cetak.bangkapos.com/ragam/read/3925.html
Comments
4 Comments

4 comments:

semoga kita bisa menjaga kerukunan antar umat beragama.

artikel yang sangat bagus..
semoga kita semua bisa menjaga hubungan baik antar umat beragama.

dalam menyikapi hubungan antar agama memang kita harus bisa menjaga sikap kita supaya kita bisa hidup saling damai.

mantap juga nih artikel nya..
semoga menyadarkan orang banyak supaya bisa rukun hidup berdampingan antar agama.

Post a Comment

Terima Kasih telah Berkunjung. Blog Berstatus DoFollow.
Para pengurus Makalah Kita Semua Tidak selalu Online untuk memantau Komentar yang Masuk, Jadi tolong berikan Komentar Anda dengan Pantas dan Layak dikonsumsi oleh Publik. NO SPAM, NO SPAM, NO SPAM dan Sejenisnya.

 
 
 

Google+ Followers

Facebook

Best Friends Yang Rendah Hati

 
Copyright © 2008 - Makalah Kita Semua , All rights reserved.